MELETUSNYA GUNUNG SLAMET

MELETUSNYA GUNUNG SLAMET

Setelah beberapa waktu yang lau tepatnya pada tanggal 13 Februari 2014 terjadi bencana alam yang menimpa daerah Jawa Timur dan sekitarnya yaitu meletusnya gunung kelud. Meletusnya gunung kelud yang menguluarkan abu vulkanik  tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jawa Timur dan sekitarnya, abu vulkanik tersebut sampai ke daerah Jawa Barat. Tidak lama dari meletusnya gunung kelud. Gempa juga mengguncang  Malang, Jawa Timur pada Minggu 9 Maret 2014 lalu yang memengaruhi aktivitas Gunung Slamet. Gunung yang dikeliling Kabupaten Tegal, Pemalang, Brebes, Banyumas, dan Purbalingga itu kembali menggeliat setelah lama tertidur sejak Mei 2009 lalu. Dari sebuah artikel memaparkan bahwa ada tiga puluh lima desa yang berada di enam kecamatan Kabupaten Banyumas masuk dalam daerah yang rawan terkena dampak letusan gunung Slamet. Di sejumlah desa ini ada sekitar 200 ribu warga. Untuk itu 35 kepala desa di wilayah tersebut diminta mulai menginformasikan pada masyarakat sebagai antisipasi awal.

Hal ini disampaikan dalam rapat koordinasi mengantisipasi meningkatnya status waspada gunung Slamet di Graha Satria, Selasa (11/3).

“Sejak di awal sudah dipersiapkan. Sehingga tidak timbul korban. Mumpung masih awal dan semoga tidak berlanjut,” pesan Wakil Bupati Banyumas dr Budhi Setiawan.

Rakor penanggulangan bencana dipimpin Wakil Bupati Banyumas dr Budhi Setiawan. Juga dihadiri Dandim 0701 Banyumas, Asekbang kesra, Kepala SKPD, Kepala BPBD, Camat, Danramil, Kapolsek dan Kepala Desa yang ada sekitar lereng Gunung Slamet.

Ia meminta pada Muspika di enam wilayah mulai mengawasi para pendatang dan penduduk setempat. Seluruh SKPD, kata dia, juga mulai melakukan cek seluruh kebutuhan dalam mengantisipasi bencana letusan gunung Slamet. Termasuk diantaranya kesiapan transportasi mulai dari truk hingga ambulance.

Sementara itu, Asekbang Kesra Didi Rudwianto mengatakan setelah rapat ini maka segera dibentuk pos induk yang berada di kantor Bakesbanpolinmas. Segala logistik seperti truk hingga personel berjaga di pos induk. Sedikitnya ada 30 truk yang sudah tersedia untuk evakuasi warga jika dibutuhkan. Kendaraan ini berasal dari SDABM dan DCCKTR.

“Kita mengevaluasi semua sumber daya mulai dari personel, tim SAR, BPBD, pramuka, linmas, Satpol, TNI, sampai Polri. Begitu juga dengan perlaatan evakuasi. Logistik juga dicek semua, jangan sampai ada yang kadaluarsa. Semua diinventarisir dan dilaporkan ke kami,” jelasnya.

Selain pos induk, Pemkab juga menyiapkan sembilan pos pengungsian sebagai upaya awal untuk keselamatan masyarakat. Seperti diantaranya Kedungbanteng, Karangsalam, Karangmangu, Kutayasa, Susukan. Tempat ini dipilih karena letaknya strategis dan tanahnya luas, sehingga bisa sebagai tempat evakuasi korban bencana.

“Akan dibagi 23 titik evakuasi. Jika ada perintah dari pimpinan untuk latihan evakuasi, langsung bisa kita laksanakan,” lanjutnya.

Selain itu, di posko tersebut juga akan dijadikan pusat informasi terkait perkembangan situasi Gunung Slamet. Ia mengingatkan bahwa satu-satunya informasi berasal dari PVMBG. Selanjutnya, setiap enam jam sekali akan dilakukan evaluasi pembaharuan data perkembangan aktivitas Gunung Slamet. Ketika ada perintah pimpinan untuk melakukan evakuasi langsung dapat dilakukan.

Sehingga, diminta agar para SKPD, camat, dan desa menyampaikan informasi pada masyarakat bersumber dari PVMBG.

Kepala SDABM Irawadi meminta kepala desa segera menginventarisir ruas jalan yang dalam kondisi rusak. Selanjutnya, akan dilakukan perbaikan darurat. Ini penting agar saat proses evakuasi berjalan lancar. “Sementara jika pelebaran tidak mungkin dilakukan. Perlu survey dulu, kemudian dilakukan sistem manajemen trafick,” katanya saat menjawab pertanyaan kepala desa Limpakuwus Sumbang tentang jalur di desanya yang hanya dapat dilalui satu truck.

Sementara itu, Dandim 0701 Banyumas Letkol Inf M Asep Afandi mengintruksikan agar informasi segera  disampaikan ke masyarakat supaya tenang dan dapat mengambil langkah yang tepat dan cepat. Ia juga meminta agar Kepala Desa, Camat, Danramil dan Kapolsek melarang warganya atau wisatawan yang akan beraktifitas ke Gunung Slamet.

“Namun informasi yang diberikan memang yang sekiranya untuk keperluan masyarakat,” pesannya. (azz)

Data Kecamatan dan Desa Rawan Bencana Gunung Api Slamet dan Dampak Panas Bumi:

Kecamatan Sumbang: Desa Limpakuwus, desa Kotayasa, desa Gandatapa, desa Sikapat, desa Banjarsari Kulon, desa Banteran, desa Susukan, desa Ciberem, desa Banjarsari Wetan

Kecamatan Baturraden: desa Karangmangu, desa Ketenger, desa Karangtengah, desa Karangsalam, desa Kemutuglor, desa Rempoah, desa Kemutugkidul, desa Kebumen

Kecamatan Kedungbanteng: desa Melung, desa Windujaya, desa Baseh, desa Kutaliman, desa Kalikesur, desa Kalisalak

Kecamatan Cilongok: desa Sokawera, desa Gununglurah, desa Sambirata, desa Karangtengah

Kecamatan Pekuncen: desa Pekuncen, desa Glempang, desa Tumiyang, desa Krajan, desa Pasiraman

Kecamatan Karanglewas: desa Sunyalangu, desa Babakan

Jumlah Desa : 35 Desa

Fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini mungkin menjadi salah satu teguran Sang Pencipta kepada kita semua umat manusia agar bisa menjaga bumi ini dan membuat kita berfikir kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjaga bumi kita maka dari itu mulailah melakukan perubahan dari hal yang kecil. Sekecil apapun kontribusi kita dalam hal menjaga bumi ini pasti ada manfaatnya bagi diri kita sendiri dan juga orang lain. Aamiin..

Sumber : Enam Kecamatan Terdampak Gunung Slamet – JPNN.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s